FORUM DISKUSI LENTERA

Selayang pandang
    Melalui dari diskusi secangkir kopi, seputung rokok, dan sepiring gorengan. Atas dasar kesadaran bersama akan pentingnya untuk memebentuk suatu forum pembelajaran yang dimana dalamnya membahas tentang hal pengetahuan yang memberi pemahaman dari ilmu politik yang secara komperhensif yang tidak diajarkan didalam kelas. maka pada saat itu bertemulah para mahasiswa yang berasal dari masing-masing daerah dan wilayah negera republik indonesia tercinta. yang berasal dari suatau Universitas di Ibu Kota Privinsi Jawa Tengah, bernama Ayah dari Presiden Ke-4 Republik Indonesia. yang berasas Ahlussunnah Wal'Jamaah (Aswaja) yang berslogan Mendunia.

Histories Cerita
           Hari itu Selasa 2 April 2019, cuaca amat cerah langit terang penuh bintang, maka timbulah rencana dari para mahasiswa dari tingkat bawah disebuah Universitas Gang Menoreh yang berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik untuk mengadakan suatu rapat membahas tentang kelanjutan rencana ingin membentuk suatu forum diskusi. maka bersepakatlah melalui informasi yang di kirim sebarannya lewat Grup WhatsApp untuk segera mengadakan pertemuan disebuah aula yang tepatnya samping masjid bernama Al-Ihsan, Pukul 19.30 WIB.
     Akhirnya saat yang dinanti telah tiba, seperti biasa iklim budaya dari warga +62 dimana terkadang ketika menetapkan waktu untuk berkumpul selalu tidak sesuai dengan apa yang tercantum dan terencana dan hal itupun sudah mendarah daging karena kebiasaan dan kedisiplinan yang kurang hal itu disebut Kemoloran. Satu persatu para anggota rapat datang, dimulai dari adat bersalam saling sapa dan saling senyum adat keramahtahan yang menjadi ciri khas anak ibu pertiwi. 
            Sebelum diskusi atas naluri sendiri tanpa di perintahkan, seperti biasa ada yang ber tugas mencari tempat yang nyaman untuk duduk lesehan melingkar memebahas permasalahan, dan ada yang bertugas memesan kopi atau minuman lain agar mulut tidak kering dan lebih enak untuk mengucap argumen.
             Waktu berjalan, angin tetap berhembus, cuaca berubah daun daun tetap tumbuh.. daaan.. Eh, malah nyanyi.  ya lanjut lagi ke penulisan. jadi waktu pun berlalu sekian mengobrol ngebacot dan ngehumor samp*h sambil nungguin teman yang akan diajak diskusi datang semua. sampai sudahlah. yang datang hanya 8 orang.  dan siapa itu?   mereka adalah dari mahasiswa yang nanti bergelar gelarnya adalah; S.IP. ia adalah pemuda 1Jong Lombok, 1Jong Jepara, 1Jong Pemalang, 1Jong Purbalingga, 2Jong Demak, 1Jong Grobogan, 1Jong Purwodadi
             Diskusi pun dibuka pembahasan pun dimulai, para pemuda pihak pun memberikan argumennya masing-masing. Sebelum ke lebih mendetail pun ada yang mengarahkan awal untuk yang dibahas bertahap. dan tahap itu ialah Pertama mereka membahas tentang sebuah nama dari Forum Diskusi yang akan mereka garap dan gagas. Kedua Filosofi dari sebuah nama, Ketiga Tujuannya, Keempaat Sasaran yang akan dituju, Kelima Tempat pelaksanaan, dan terakhir keenam adalah Qada Qodar. eh, bukan ya. malah ke rukun iman. Lanjut ke serius..  Dan Keenam adalah Logistik atau masalah Pendanaan untuk konsumsi dsb. 
             Dimulai dari Pertama tujuan dari itu yakni mencari nama yang tepat untuk forum diskusi nanti, dimulai dari Jong Lombok yang menggagas nama yakni Matrealistik Dialetika Logila (Madilog). namun disangga oleh Jong-Jong yang lain, karena belum pas dan tepat dan lebih condong pada pemahaman  yang bersumber dari satu sisi substansi saja. karena kalimat itu diambil dari karya tulis yang bersal dari pejuang kebebasan sekaligus filsuf, Tan Malaka. Selain itu timbul makna dari singkatan bahasa lain; Kumpulan Diskusi Politik (Kusdipol), Gerakan Anak Politik Berdiskusi (Gapsi) dll, hingga timbul sanggahan dari Jong Pemalang yang menganggap bahwa kalau kita membuat nama berdasar pada hal yang isinya dari singkatan serapah-serapah kata, lalu apa bedanya gitu lo, kita dengan mereka. saat ini kan banyak sekali komunitas itu yang nama dari kumpulannya berasal dari kepanjangan singkatan-singkakatan kata. alhasil, pemikiran yang tidak disetujui oleh salah satu Jong tersebut, lalu dari Jong masing-masing baik Pemalang Purbalingga Grobogan Demak.pun memeberikan ungkapan masing-masing timbul beberapa kata yang diambil dari serap bahasa baik inggris, yunani kuno, jepang, latin dsb.. 
            Hingga muncul cetusan dari Jong Jepara yakni ''Lentera". Awalnya, kalimat itu tak digubris (diabaikan) oleh beberapa Jong. dan para Jong masih lanjut mencari makna dari kata serapah bahasa lain hingga Jong Jepara terus meyakini dan meyakinkan dan bergeming sembari bicara pada salah satu Jong Purwodadi dan mencari makna dari arti Lentera. sehingga jong puwodadi tersebut faham maksud dari Jong jepara. Lalu, Jong Jepara mengambil diskusi semua diam melihat maksud paparan dari Jong Jepara tentang "Lentera" hingga dari Jong Pemalang yang mulai paham dari maksud lalu menguatkan pendapat Jong jepara. begitupun Jong Purwodadi Grobogan, Jong Lombok dan Jong Demak. sehingga mulai dari beberapa Jong sependapat dari hal tersebut. 
            Maka, Pada saat itu pula pukul 22.45 WIB. 2 April 2019 bertempat di aula samping masjid Al-Ihsan. para diskutor beranggotakan 8 orang, dimana angka delapan merupakan angka yang bermakna kesinambungan, dimana tak sengaja pula sesuai dengan salah satu nomor yang dipakai dan ada di baju Jong lombok. Entah kebetulan atau memang tanda alam. Lalu logo dari icon grup WhatsApp yang di kasih Jong Purwodadi pun tak sengaja ada kaitannya dengan nama diskusi, yaitu memberi icon grup gambar lampu ,- penerang.  
dan dibalik dari kebetulan hal-hal itu. Hingga akhirnya, semua Bersetuju memberi nama diskusi tersebut yakni "LENTERA".
             
Makna dan Filosofis