Notulensi Forum Diskusi Lentera, 13 April 2021.

Moderator : Lalu AgsaL Fazalani (Mahasiswa Ilmu Politik, Lentera)

Narasumber : a. Pdt. Rudiyanto, MTh (Pendeta sekaligus Dosen Teologi)

    b. Mafturrahman (Aktivis Muslim Pluralis)

Notula : Muhammad K. Umam (Mahasiswa Ilmu Politik, Lentera)

Tema : Terorisme: Musuh dalam selimut kebhinekaan


Pdt. Rudiyanto, MTh

Dewasa ini orang-orang beragama Kristen masih memahami islam sebagai agama yang monolitik, atau dapat dikatakan orang-orang dalam agama Kristen sedikit banyak masih dalam kekurangan informasi atau pengetahuan yang menyebabkan sempitnya cara berpikir, sehingga apa yang terjadi dalam masyarakat berkeyakinan Kristen memukul rata bahwa islam semua berwatak atau bersifat keras, kaku, dan tidak cinta damai.

Dalam penafsiran final, dengan paradigma Kristen yaitu “mengasihilah Tuhan Allah dan kasihilah sesama manusia seperti mengasihi dirimu sendiri” paradigm ini sama dilakukan oleh agama termarjinalkan di masa lampau, yaitu dari Yahudi sendiri.

Dalam sejarahnya, menilik berbagai Teks-teks kekerasan dalam perjanjian lama dahulu perlu dibaca secara spiritual. Dalam sejarah kekristenan terdapat edicmilano, yaitu mengakhiri kekaisaran romawi dan gereja yang terjadi proses kooptasi.

Kristendom atau masyarakat Kristen sempat goyah ketika terdapat sifat feodal para pemuka kala itu sempat terjadi pergeseran ketika masuknya berbagai isme atau paham yang ada, yaitu dari feodalisme ke kapitalisme saat itu terjadilah keretakan.

Melalui sekularisasi dari abad pencerahan, berawal dari akhir perang 30-an yang melahirkan berbagai filsuf era rasionalisme. Godaan konstantinuas yang menjadi godaan intoleranasi kala itu, dan mungkin akan menjadi pemantik adanya intoleransi sampai saat ini. 


Mas Mafturrahman

“pendiri negara kita ini telah arif dan bijaksana menjadikan Pancasila sebagai dasar negara bhineka tunggal ika” –Nurcholis Majid- gerakan yang dilakukan oleh para teroris yang dilakukan kawan-kawan yang memakai kedok suatu agama (islam) diberbagai daerah janganlah kita labeli langsung yang bersalah ialah agamanya, namun semuanya itu adalah “Oknum”.

Saya yakin tidak ada agama yang mengajarkan tindakan-tindakan ekstremis atau mengagungkan kekerasan sebagai jalan menuju tujuan mulia dalam sistem kepercayaan mereka. Namun hal itu tidak dapat dibenarkan sebagai sebuah hal yang diajarakan oleh agama mana pun yang ada. Bahkan para sofis pun melalui perjalanan spiritual mereka tidak menemukan kekerasan atau ajaran ekstremis bukanlah menjadi suatu bagian dari suatu agama. Selain terorisme, musuh kita bersama ialah kemiskinan dan kurangnya pendidikan.

Jelas saya menegaskan, bahwa semua agama pasti tidak ada yang namanya pengajaran ekstremis seperti yang biasa kita lihat ulahnya belakangan ini. Bagaimana kita merawat nilai-nilai sekulerisasi. ada dua hal yang ditawarkan oleh Nurcholis Majid, yaitu mengapa kita harus sekulerisasi, bagaimana kita tidak menjadikan urusan politik menjadi bersifat sakral, melainkan masalah duniawi, namun harus ada hubungan vertikal antara manusia dengan Tuhan yang harus kita yakini.


Pandangan pluralisme

Pdt. Rudiyanto, MTh

Ketika konservatif dapat menjadikan pluralis sebagai teman atau hal yang umum maka perlahan akan menjadi moderat, namun ketika melihat mereka yang progresif maka akan dianggap liberalis. Moderat memang disetiap langkah maupun tempat cukuplah banyak karena perlahan mendominasi. Namun memang umumnya yang sering kita temui ialah mereka yang moderat.


Tanya- Jawab

Andreas Leo – Pdt. Rudiyanto, MTh

Tidak beragama apakah juga termasuk dalam keberagaman bangsa kita ? apakah itu sikap yang melawan kebhinekaan atau justru adalah kebhinekaan itu sendiri ?

@ menurut saya pribadi tidak beragama merupakan bagian dalam plurality, karena itu masuknya dalam kebebasan berekspresi, atas hak diri.

Bung karno bilang, mau menjadikan atheis silahkan itu adalah pilihanmu, dan itu bagian dari keberagaman, plurality, dan itu merupakan bagian dari keberagaman atau kemajemukan bangsa pula.


David – Mafturrahman

Kenapa anggota kelompok (agama) yang melakukan keburukan itu disebut oknum ? tetapi yang mekakukan kebaikan tidak disebut sebagai oknum juga ? seakan-akan kata oknum hanya untuk menutupi keburukan atas suatu kelompok ?

@ kebaikan tidak musti di publish, semisal para pemuka agama yang melakukan. Latar belakang yang belakangan ini terjadi atau motif yang dilakukan oleh mereka yang mlakukan aksi terror, dan mereka harus kita sebut oknum, bukanlah anggota lagi dalam suatu agama. Dapat kita tarik kesimpulan bahwa ekstremisme ialah mereka yang dilakukan oknum dan bukan atas nama kepercayaan manapun. Kita sebagai warga negara, secara khusus kita sebagai mahasiswa harus dapat menjadi peramu formula menangkal gerakan seperti demikian.


Monica – Pdt. Rudiyanto, MTh

Apa yang melandasi terorisme menghantam gereja dan mabes polri kemarin, kan hakikaatnya yang melakukan itu orang muslim dan jika disangkut-pautkan dengan tipologi keberagaman itu seperti apa ?

@ hal semacam itu tentu merupakan tindakan pengkhianatan tehadap keagamaan. Secara geopolitik Indonesia sangatlah strategis sekalai menjadi jembatan penghubung oleh berbagai negara dunia, namun ini juga menjadi suatu ancaman bagi kita dalam usaha menjadi suatu negara yang maju. Apabila kita dapat dikuasai suatu pihak maka akan sangat hebat suatu kelompok yang menguasai karena beberapa hal tadi. Secara sosial politik juga kita cukup unik karena mayoritas masyarakat kita muslim, namun mengapa kita tidak memilih negara islam, namun jelas kita sudah memilih natin state, dan bukannya islaemic state. Hal ini jangan kita lihat sebagai religion class, namun melihat sebagai sebuah pesan untuk kita menjaga Indonesia.

Monica – Mafturrahman

@ jelas hal itu tidak dapat dibenarkan atas nama agama, dan hal itu tidak dapat disalurkan oleh perbuatan karena pengajaran dari agama. Jadi jelas kita tidak boleh menghakimi suatu perbuatan itu karena ulah agama, melainkan ulah oknum.


Andi – mafturrahman

Disuatu negara, posisi negara dalam ruang lingkup peribadatan umat sering mengalami penjarahan atas nama anti sekulerisme. Sehingga ketaatan masyarakat lebih banyak dipengaruhi oleh seruan tokoh agama daripada perintah negara, diperparah dengan kualitas moral pemerintah.

Dari situ apakah gerakan revolusi melalui tindakan terror melawan negara dapat diterima dari sisi substansi semangatnya ?

@ gerakan oposisi baik dalam merawat esensi dalam demokrasi, dan oposisi bukan lah musuh pemerintah. Kemajemukan kita cukuplah unik, terdapat masyarakat kita yang menjunjung tinggi tokoh agamanya, dan ada pula yang menjunjung tinggi pemerintahnya. 






Closing Statement

Pdt. Rudiyanto, MTh

Orang beragama di Indonesia mempunyai panggilan besar untuk merawat keberagaman demi kesatuan, mengapresiasi keberagamaan dan usahanya untuk menangkal terorisme.


Mafturrahman

Banyak jalan menuju Tuhan, tapi tidak menggunakan kekerasan, karena tindakan seperti itu tidak dapat dibenarkan.